Selasa, 09 Februari 2016

Cloudy Roses..

Malam itu menjadi malam dimana kegelisahanku berawal. Otak ini tak hentinya berputar merangkai sebuah kisah yang sungguh tidak aku ingin bayangkan.
Keesokan pagi aku mulai memaksakan diri untuk bangun dari tidurku. Ternyata ini bukan mimpi.. ini sungguh terjadi padaku. Apa yang aku bayangkan menjadi sebuah kenyataan..
Saat sore menjelang tiba-tiba aku terdiam dengan bayang cerita yang menyita isi pikiranku. Aku pernah mendapatkan bayangan cerita itu sebelumnya dan itu benar terjadi. Sebuah konflik yang terjadi antara saudara kandungku dan saudara sepupu kami.
Aku tercengang mendapatkan bayangan cerita itu. Bukan itu yang aku harapkan terjadi dalam pertemuan keluarga esok siang. Yang aku harapkan adalah sebuah kesepakatan yang terjadi antara saudara kandungku dan saudara sepupu kami.
Aku menunggu saudara kandungku pulang dari melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Aku melayaninya hendaknya permaisuri kerajaan. Apa yang ia ingin sebisa mungkin kuberikan dengan maksud ia akan mendengarkan cerita dan saran yang akan kuberitahu nanti. Ku menunggu dengan tenang dimana keadaan yang sedikit dingin menjadi hangat agar dapat ku memulai cerita dari bayangan yang aku dapatkan.
Bukan rasa hangat yang ku rasakan namun cacian yang ku dapatkan seolah aku menggurui saudara kandungku sendiri. "Bukan itu yang ingin aku sampaikan padamu, kak.." kataku dengan suara lirih nan lembut. "Kamu belum tahu wujud asli mereka, bukan??!" Dengan nada suara tinggi yang sedikit mendapatkan tekanan. "Aku memang tidak tahu wujud asli mereka tapi bisakah kamu merendahkan nada suaramu?" Kataku pelan. "Kamu tidak perlu mengajariku seakan akan aku anak kecil yang tidak tahu akibat dari perbuatanku sendiri. Aku tahu apa yang harus aku lakukan esok karena aku sudah dewasa." Dengan nada suara yang semakin meninggi.
"Kak..."
"Hentikan!" Aku muak dengan nasehatmu! Jangan kamu bergaya seperti seorang yang benar. Kmu memihak siapa sebenarnya?!! Hah?!!" Suara yang terdengar semakin tinggi dan kuat terlontar langsung dari mulut saudara kandungku sendiri.
Aku diam untuk sementara hingga dapat mengatur nada suara suara yang lirih terdengar lebih tegas. Namun bukan nada suara tegas yang keluar dari mulutku melainkan nada suara yang semakin lirih dan bergetar.
"Aku hanya menginginkan kamu tetap menjadi orang yang baik terhadap mereka, kak. Aku tidak ingin saudara kandungku berubah seperti mereka yang tidak memiliki rasa empati sedikitpun." Air mata pun terjatuh dan sekejap membasahi kedua pipiku. Dalam hatiku berkata, bukan ini yang aku mau, bukan! Sejak awal seharusnya aku tidak menceritakan bayanganku pada saudaraku. Aku bersalah. Aku bersalah karena menceritakan bayanganku. Aku bersalah.. karena aku ia menjadi seolah terpojok dengan sikapnya nanti. Aku minta maaf karena aku tahu seorang saudara yang masih dianggap kecil dan tidak memiliki kedudukan tinggi dalam sebuah keluarga tidak seharusnya memberikan pendapat tentang apa yang seharusnya dilakukan dan tidak.. mulai saat itu tanpa menyadari akhir dari perdebatan yang terjadi aku memutuskan untuk diam dan bersuara bila aku menginginkan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar